Batubara (Humas). Di balik seragam rapi dan suasana religius MAN Batubara, dua siswa tengah bersiap menorehkan sejarah. Mereka bukan hanya pelajar biasa, tetapi calon-calon ilmuwan muda yang akan mewakili madrasahnya dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi tahun 2025, Kamis (21/8). Di tengah hiruk pikuk persiapan ujian dan kegiatan rutin madrasah, keduanya sibuk dengan sesuatu yang lebih besar, mewakili sekolah mereka dalam ajang OSN tingkat provinsi.
Ali Hakim Hasibuan dan Zaskya Al Khumaira, siswa kelas XI yang dikenal rendah hati dan rajin, bukan hanya menjadi kebanggaan teman-teman sekelasnya. Kini, mereka juga menjadi wajah madrasah dalam lomba akademik paling bergengsi di Indonesia.
Kimia dan Geografi mungkin terdengar seperti mata pelajaran biasa bagi sebagian siswa. Namun bagi mereka berdua, masing-masing punya arti yang dalam. Ali menyukai Kimia karena ketertarikannya pada reaksi dan eksperimen. Sedangkan Zaskya Al Khumaira mengaku jatuh cinta pada Geografi karena ia menggemari peta dan fenomena alam, keduanya telah melewati seleksi ketat di tingkat kabupaten. Kini, mereka melangkah lebih jauh, membawa harapan besar dari guru, orang tua, dan teman-temannya.
Perjalanan mereka tidak mudah. Seleksi OSN tingkat kabupaten telah mereka lewati dengan perjuangan dan belajar keras. Di saat teman-teman lain pulang, mereka memilih tinggal lebih lama di madrasah, berdiskusi dengan guru pembimbing, menyelami materi tingkat lanjut, dan berlatih soal-soal yang menantang. Tantangan tidak sedikit, mulai dari materi yang kompleks hingga manajemen waktu antara pelajaran reguler dan persiapan OSN. Namun, semangat mereka tak pernah surut.
Guru pembimbing mereka, Erwinsyah guru Kimia dan Suprianto guru Geografi menyebut semangat keduanya sebagai sesuatu yang langka. “Mereka bukan hanya pintar, tapi juga punya kemauan kuat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Itu modal utama di OSN,” ujar Suprianto.
Dukungan penuh juga datang dari Kepala MAN Batubara Erwin Parlindungan Nst, S.Ag.,MM. Menurutnya, keberhasilan anak didiknya melaju ke tingkat provinsi membuktikan bahwa madrasah mampu mencetak siswa-siswa unggul di bidang sains. “Kami ingin membuktikan bahwa madrasah bukan hanya kuat di nilai-nilai agama, tapi juga di bidang akademik umum,” tegasnya.
OSN tingkat provinsi akan mempertemukan para siswa terbaik dari seluruh kabupaten dan kota. Persaingan tentu tidak mudah, namun semangat mereka tidak surut. Mereka tidak hanya membawa nama pribadi, tapi juga harapan besar dari keluarga, madrasah, dan teman-teman yang setiap hari menyemangati mereka.
OSN tingkat provinsi adalah pintu gerbang menuju tingkat nasional. Meski persaingan ketat, Ali dan Zaskya siap memberikan yang terbaik. Bagi mereka, ini lebih dari sekadar lomba, ini adalah perjalanan menantang diri, memperluas wawasan, dan membuktikan kemampuan sebagai generasi muda madrasah yang unggul. (MI)